Kamis, 11 Agustus 2016

Fear Pokemon Go



Author: Sad Anonim.

1 Minggu ini sudah game yang sedang trend saat ini ada di smartphoneku, aku terus berburu pokemon. Namun tak meninggalkan kewajibanku untuk berlajar, aku tak mau seperti temanku Jack. Ia sampai rela membolos hanya untuk mencari pokemon saja. Dia memang seperti itu orangnya. Diperbudak oleh game, aku sudah sering kali menasehatinya. Namun itu seperti tak ada gunanya. Dan sore ini aku berlari bersama Jack, ia mengatakan ingin membawaku kesuatu tempat dimana banyak pokemon legend yang bisa ia dapatkan ditempat itu. Aku hanya mengiyakannya saja, karena memang aku ingin menguras lemak yang sudah menumpuk selama beberapa hari.

"Kita mau kemana?" tanyaku.

"Kecabin yang ada diujung hutan. Aku mendapat info dari sebuah akun diforum, bahwa cabin itu terdapat banyak pokemon," ucapnya.

"Apa tak sebaiknya kita berlari ditaman saja? siapa tau disana ada," ucapku mengelak.

Aku tak ingin ketempat itu. Sebuah cabin tua yang tak terawat. Kabarnya cabin itu adalah tempat bekas pembantaian yang dilakukan kepala keluarga yang 10 tahun lalu mendiami tempat itu. Namun aku hanya bisa menghela nafas panjang. Jack yang keras kepala ini tak mau mendengarkanku. Jadilah aku dan dia berlari sampai dicabin itu. Jaraknya sekitar 3 km dari rumah Jack. Saat sampai disana aku mencium bau yang sangat busuk, entah apa. Tapi baunya seperti bau bangkai. Jack mengajakku untuk lebih mendekat ke cabin itu. Cabin itu sidah terlihat reot, banyak semak belukar menyelimuti tiang dan dinding cabin yang berukuran 15x15 meter ini.

"Apa kau yakin?" tanyaku pada Jack.

"Ya, coba lihat. Aku melihat pikachu disini," ucap Jack.

Ia terlihat mencoba menangkap pikachu yang selalu berhasil kabur. Hingga tak sadar kami masuk kedalam cabin itu lewat jendela. Awalnya aku tak ingin ikut, tapi Jack memaksaku agar ikut masuk kedalam cabin itu. Sebuah kesalahan yang kami lakukan. Bau busuk tercium semakin menyengat, aku semakin takut saat Jack membawaku masuk lebih jauh kedalam cabin itu. Aku melihat dari jendela yang ku lewati, langit sudah mulai menguning. Aku semakin takut. Tanpa sepengetahuan Jack, aku mengambil sebuah palu godam yang tersandar disamping pintu yang dilewati oleh Jack.

"Astaga tempat apa ini?" ucap Jack menutup mulutnya melihat banyaknya mayat dalam kondisi mengenaskan.

Bughh!!! praakkk!!!

"Kenapa? kenapa kau melakukan ini padaku Arthur?" ucap Jack padaku.

"Karena aku takut, jika kau memberitahukan hal ini pada orang lain Jack, apalagi aku memang menunggu kesempatan ini. Kau tau? Akulah yang membuat post tentang cabin ini. Untuk memancingmu masuk kedalam perangkapku," ucapku pada Jack.

Aku mengangkat tinggi-tinggi palu godam yang sebelumnya kupukulkan kekakinya tadi. Aku tersenyum lalu berkata.

"Dan, selamat bergabung dengan para pokemonku Jack!" Sambil melayangkan palu itu tepat kekepalanya.

Title: Just It!





Author: Sad Anonim.

 Seorang anak perempuan bernama Alicia selalu bermimpi disetiap malamnya. Seluruh mimpinya adalah mimpi buruk yang sangat mengerikan untuk anak berumur 10 tahun seperti dia.

Setiap malam ia selalu memimpikan hal-hal aneh yang menimpa dirinya. Entah itu kecelakaan, pembunuhan, atau pemerkosaan. Seperti halnya mimpi yang ia alami satu minggu berturut-turut.

Malam pertama. Dia memimpikan bahwa dirinya sedang disekap dan diikat dengan kencang oleh sebuah rantai. Ia dipukul terus menerus hingga wajahnya tak berbentuk. Namun hal ini tak begitu ia takutkan. Karena ia sering mengalaminya.

Malam kedua. Mimpi itu sama hanya kini ia diikat dengan posisi berdiri dan seluruh pakaiannya dilepas. Kini ia tak dicambuk melainkan dipukul dengan balok kayu.

Malam ketiga. Ia kini diikat tangan dan kakinya disebuah tiang. Ia seperti digantung dan tubuhnya ditempeli dengan benda panas yang baru diangkat dari perapian.

Malam keempat. Ia kini dibaringkan disebuah pembaringan yang terbuat dari batu. Hanya itu, ia tak disiksa seperti malam sebelumnya.

Malam kelima. Ia masih berbaring dipembaringan itu, namun kini ia merasakan sesuatu yang mencengkram erat pergelangan kaki dan tangannya.

Hari keenam. Ia merasa sedang ditindih oleh seorang pria bertubuh besar tanpa busana.

Hari ketujuh. Ia kini seperti berada diruang operasi. Ia merasa perutnya terbelah dan ada beberapa orang yang memegang organ-organ dalam tubuhnya. Untuk kali ini ia merasa sangat ketakutan. Karena saat semua itu semakin mengerikan. Ia mencoba untuk bangun seperti malam-malam sebelumnya. Namun ia tak bisa melakukannya dan rasa sakit itu semakin terasa hingga membuat Alicia hanya bisa melihat warna gelap.

***

"Maafkan kami pak bu, anak kalian sehat namun sepertinya jiwa anak tuan dan nyonya tak ada didalam raganya," ucap seseorang berpenampilan seperti suster.

Tamat.

Title: Lift





Author: Sad Anonim.

Andrew sedang berjalan menaiki satu-persatu anak tangga yang ada dikantornya. Sebuah gedung berlantai 10, tempat dimana dia berkerja sehari-hari menjadi staf HRD. Diumurnya yang ke-30 ini ia masih saja menyendiri. Banyak staf wanita yang mencoba untuk mendekatinya, namun ia sepertinya tak menggubris satupun dari mereka. Wajah tampan dengan postur badan yang tinggi dan atletis tentu membuat banyak wanita menginginkannya. Minggu lalu Andrew pulang larut malam, tak seperti biasanya. Perkerjaannya sangat menumpuk hari ini. Pukul 23:00 akhirnya

Andrew bisa bernafas lega, semua perkerjaannya selesai. Karena kondisi fisiknya yang sudah mulai lelah membuat Andrew memilih untuk turun dari lantai sepuluh itu menggunakan lift. Ia menekan tombol lift dan masuk kedalam. Lift itu menutup dan mulai menuruni satu persatu lantai gedung itu. Andrew bersiul sambil menunggu lift itu tiba dilantai dasar. Namun tiba-tiba lift itu berhenti saat sampai dilantai 5. Pintu lift terbuka dan seorang wanita berjalan masuk kedalam lift itu. Wanita itu sangat menawan, hingga Andrewpun tertarik.

"Ehem.. Boleh aku tau siapa namamu?" tanya Andrew.

Wanita itu memalingkan wajahnya kearah Andrew.

"Oh iya, aku Nia," ucap wanita cantik itu.

"Aku baru kali ini melihatmu, kau anak baru ya?" tanya Andrew lagi.

"Tidak juga, aku sudah 3 bulan disini," sahut Nia.

"Wah, kenapa aku baru sekarang melihatmu ya?" tanya Andrew.

"Mungkin kamu terlalu sibuk dengan perkerjaanmu," ucap Nia pelan.

Ting!!!

Lift terbuka, tak terasa mereka telah sampai dilantai paling ujung. Namun Andrew seperti kebingungan. Jelas saja, ia merasa ada yang aneh. Suasana kantornya berubah drastis tidak seperti biasanya. Seperti ia terdampar ditahun yang sudah lewat.

"Ini dimana?" tanya Andrew.

"Ini 20 tahun yang lalu, saat aku membantai seluruh karyawan kantor ini hahahhaha!!" ucap Nia dan langsung menikamkan belati yang entah sejak kapan ia pegang. Andrew berbalik nafasnya tercekat dikerongkongannya dan iapun ambruk dilantai.
***

Ting!!
Suara itu membuatnya kaget dan terbangun dari tidur berdirinya. Saking lelahnya ia sampai tertidur. Ia melihat kearah angka di atas pintu lift.

"5," ucap Andrew.

Dan perlahan pintu terbuka. Ia melihat sosok wanita cantik yang ada dihadapannya. Dengan cepat otaknya berkerja, saat wanita itu masuk. Andrewpun langsung melangkah keluar dari lift itu. Andrew terus berjalan dan setelah beberapa langkah ia berbalik dan menatap kearah wanita itu dari celah pintu yang hendak tertutup. Andrew tersentak. Wanita itu tersenyum dan ditangan kirinya ia menggenggam sebilah belati. Wanita itu menatap kearah Andrew dan mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu.

"Kau lolos!"

Tamat

Title: Penyusup Natal



Author: Sad Anonim.

Jill, gadis berumur 12 tahun dengan rambut pirang sedang asyik menghias pohon natal dengan beberapa pernak-pernik. Tiba-tiba suara telpon berdering, ia melangkah kemeja dan mengangkat telpon. Telpom itu ternyata dari ibunya yang adalah seorang perawat dirumah sakit setempat. Ibunya bilang bahwa ia tak bisa pulang cepat, dan mungkin akan kembali saat tengah malam. Jill yang memang anak baik dan pemberani hanya mengiyakan.

Jill menutup telponnya dan kembali menghiasi pohon natal. Tak berselang lama, pohon natal itu kini terlihat cantik. Anak umur 12 tahun itu lalu duduk disofa sambil menonton acara tv yang sedang berlangsung. Apartemen yang dihuni oleh 20 keluarga ini hampir kosong, hampir seluruh penghuni apartemen ini pulang untuk merayakan natal dengan keluarga besar mereka yang entah ada dimana.

Dan saat waktu menunjukkan pukul 10 malam, Jill merasa bosan menunggu ibunya yanh tak kunjung pulang. Samar-samar Jill mendengar suara ketukan dipintu. Ia berjalan dengan perlahan dan mengintip dari lubang kunci. Disana ia melihat seorang pria berjenggot dengan pakaian merah yang terlihat kotor. Tubuhnya besar dan terlihat menjijikkan.

Jill hanya diam, ia ingin mengetahui apa maksud dari orang ini. Ketukan dipintu semakin keras, bahkan seakan-akan itu bukanlah ketukan. Tapi sebuah paksaan untuk mendorong pintu itu agar terbuka. Jill tetap diam ditempatnya berdiri sambil mengintip dari lubang kunci.

"Jill bukalah pintunya, aku tau kau ada disana anak manis," ucap pria itu.

Jill ketakutan, namun ia tetap mencoba mengintip dari lubang kunci itu. Suara ketukan dipintu kini berhenti, orang itupun tak lagi berada didepan pintu. Jill sedikit bernafas lega, ia tentu saja ketakutan. Apa yang bisa anak umur 12 tahun lakukan jika harus melawan pria bertubuh besar seperti orang gila yang mencoba untuk masuk tadi. Namun, suara yang cukup keras terdengar. Jill mencoba mengintip lagi lewat lubang pintu, betapa terkejutnya ia saat melihat pria itu mengayunkan kapak dan mencoba untuk merusak pintu.

Jill lalu berlari naik kelantai dua untuk bersembunyi didalam kamar. Ia mengunci pintu kamar dan masuk kedalam lemari pakaian. Disitu Jill bisa mendengar suara pintu yang berhasil dirusak oleh penyusup itu. Jill menangis, tubuhnya gemetar ketakutan. Apalagi saat suara langkah kaki yang dengan cepat menaiki anak tangga. Suara benturan antara mata kapak dan kayupun terdengar lagi. Hal itu membuat Jill semakin ketakutan. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dan suara langkah kaki itu berhenti tepat didepan lemari tempat Jill bersembunyi.

"Jill, aku tau kau disana. Keluarlah!!"ucap pria itu.

Dengan paksa pria itu merusak pintu lemari, ia berhasil merusak pintu itu dan membukanya. Dan disana ia melihat Jill yang meringkuk ketakutan. Pria itu menarik rambut Jill, membawanya keluar dan melemparkan tubuh gadis berumur 12 tahun itu kekasur.

"Baiklah Jill, kita akan bersenang-senang dimalam natal ini. Ini aku santa claus yang akan memberikan hadiah bagi anak baik sepertimu," ucap pria itu.

***

Merry pulang, ia terkejut saat melihat pintu depan kamar apartemennya rusak. Ia masuk kedalam rumah denga terburu-buru. Matanya hanya mencoba untuk mencari putri kecilnya, ia tak memikirkan hal lain lagi. Bahkan bingkisan yang ia pegangpun ia jatuh dilantai begitu saja. Ia tambah terkejut saat melihat isi rumah yang berantakkan.

Dan saat ia melihat ruang tengah, hatinya menjadi lega. Ia melihat anaknya duduk manis sambil melihat kearah pohon natal. Tapi tunggu!! pohon natal itu dihiasi isi perut manusia. Merry berjalan pelan menghampiri anaknya. Ia menyentuh pelan bahu anaknya. Jill memutar kepalanya, ia tersenyum dengan bibir penuh darah dan mulut yang sedang mengunyah sesuatu. Merry melihat seonggok kepala yang bagian tempurungnya sudah berlubang dan dari lubang itu keluar bagian otak yang tersisa setengah.

"Sayang ada apa?" tanya Merry sambil mengelus kepala anaknya.

"Pria ini tadi menyusup keapartemen kita dan mencoba untuk membunuhku bu. Tapi karena aku lapar jadinya aku memakannya, maafkan aku bu," ucap Jill menunduk.

"Tak apa, jadi ibu bisa menyimpan hati dan jantung yang ibu bawa untuk sarapan kita besok," ucap Merry sambil tersenyum.

Comments system

Disqus Shortname